![]() |
Sumber: republika.co.id |
Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri*
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Pada sore hari Jum’at, 1 April 2022 salah satu masjid di pemukiman saya
mengumumkan bahwa salah seorang di antara kami telah pulang menghadap Tuhan. Dalam berita
tersebut terkandung pesan bahwa kematian adalah kepastian,
tinggal menunggu giliran. Tentu saya tidak akan membahas mengenai berbagai
usaha manusia hari ini yang mencoba melampaui kematian. Mungkin akan kita bahas
di lain kesempatan.
Pernah saya mendengar suatu pepatah yang kurang lebih mengatakan bahwa
hidup itu hanya sependek tarikan nafas. Manusia hidup dari satu tarikan nafas
ke tarikan nafas berikutnya. Sampai tiba suatu saat nafas akan terhenti dan
manusia akan mati. Mulai saat itulah kehidupan berikutnya di “tempat lain”
dimulai.
Sebagaimana akrabnya manusia dengan kehidupan, pada saat yang bersamaan manusia
juga (harus) akrab dengan kematian. Tak ada seorang pun yang dapat memastikan masa
hidupnya sampai hari pertemuan dengan kematian telah tiba di depan mata. Dan
ketika pertemuan itu telah sampai waktunya, tak ada penundaan, tak alasan. Ajal
menjemput dalam keadaan sehat atau sakit, dalam bangun atau tidur, di tempat kerja atau di tempat wisata, dan yang paling krusial adalah dalam keadaan siap atau
tidak. Yang terakhir ini tentulah pilihan.
Sore ini berita lelayu terasa berbeda karena ketika ramai manusia sejak
jauh-jauh hari berdoa agar dipertemukan kepada bulan Ramadhan, mempersiapkan
segala keperluan jasmani dan rohani, Allah swt. berpesan: kamu bisa
meninggal bahkan satu jam sebelum Ramadhan.
Tidak ada jaminan umur saya akan sampai pada hari kedua, ketiga,
keempat, kelima Ramadhan. Bahkan sangat mungkin umur saya tak sampai menyambut
Idul Fitri. Hal ini tidak hanya berlaku bagi saya, tapi juga anda!
Maka bagi kita semua, yang telah sampai kepada Ramadhan patut bersyukur
kepada Allah swt. dan berdoa agar diberi kekuatan untuk memaksimalkan waktu
satu bulan ini, mendekatkan diri kepada Allah swt., baik dengan ibadah mahdhah
maupun ghairu mahdhah.
Sebagai penutup saya berharap pengalaman pribadi saya menyambut bulan
suci Ramadhan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk memanfaatkan
setiap tarikan nafas yang diberikan oleh Allah swt. di jalan kebaikan dan
senantiasa menjauhi jalan keburukan.
Mungkin pada kesempatan ini kita diingatkan Allah swt. dengan kematian
orang lain, tapi bagaimana jika kematian itu sendiri yang datang mengingatkan
diri kita?!
Wallahu a’lam.
Ditulis pada hari Jumat, 1 April 2022.
___
*Pegiat SEED Institute, Mahasiswa PAI UMS
0 comments: